Total Pageviews

Thursday, May 2, 2013

Mencoba Membuka Kembali Pintu Rumah Kenangan Kita




“Jika Anda Ingin Melihat Dengan Kacamataku”
Oleh : Bang Salim [1]

Ikutlah aku sebentar, kuajak kalian berpetualang menjelajahi lembaran- lembaran masa lalu.
Adzan Shubuh sudah dikumandangkan, suaranya dipancarkan oleh TOA yang berjarak hanya beberapa jengkal. Rumah 56 masih terlelap, penghuninya masih terkapar tak berdaya. Hanya beberapa dari kepala yang kuat iman terlihat menyembul keluar untuk sholat berjamaah. C.u.m.a  satu dua orang.  
Aku sendiri kurang beruntung, alaram di HP ku begitu pemalas. Ia hanya mau berdering pukul 05.00. Akhirnya selama sebulan aku cuma berhasil s.e.k.a.l.i saja mengikuti sholat Shubuh berjamaah.
Aku terbiasa bangun jam 9 atau 10 pagi. Begitu bangun aku langsung mencekik leher galon hingga muntah. Rasanya aku yang paling suka minum. Tapi aku cuma dua kali ngisi ulang air galon. Pertama bersama Bang Haji, dan kedua bersama Ina.
Mengantar ibu- ibu ke pasar Temayang untuk belanja masakan.  Orang yang pertama dan terakhir kuantar adalah Rika. Sepedahmotorku lebih rajin dariku.
Aku merasa tidak berguna. Mungkin cuma korah- korah dengan Ubed yang bisa kulakukan. Meminum kopi yang yang susah2 dibuat oleh Rifqi. Jadi percaya diri meskipun belum mandi jika melihat Lia. Dengan tidak sengaja selalu melihat Ayu memotong kuku, sepertinya kukunya paling sehat dan produktif. Membaca sms dari Sita,” Bangun2, makan”. Melihat wajah Ilmy yang berusaha rileks. Kami semua tahu itu cuma di permukaan, keringatnya sedang diperas-peras, tulangnya dibanting- banting dan fikirannya sedang dibebani. Ia memikul 15 orang. Gerakan dan tutur kata Fida yang lembut sungguh mendamaikan hati siapa saja yang melihatnya. Aku jadi kenyang sebelum makan jika melihat Nadlir. Aku cuma berdo’a semoga dia cepat gemukan. Hehehe.
Orang yang paling cerewet saat aku lepas kacamata adalah Dita. Ia sengaja bertanya, “kelihatan Pak?”. “Aku bahkan bisa menghitung jumlah bulu alis matamu” jawabku enteng. Dia menantang, “ coba hitung berapa alisku?”. Aku bahkan tau jawabannya sebelum pertanyaan itu lahir. Kujawab dengan nada datar, “D.u.a”. Diawali dengan ekspresi kecewanya kemudian disusul tawanya. Aku berhasil menipunya. Ho ho ho…… Sepertinya aku menang tanpa perlawanan.
Anis begitu paranoid. Biar aku saja yang menutup jendela. Ia bahkan tidak berani menutup jendela rumah. Ke toilet pun ia berjamaah.
Eni begitu matematis. Aku suka tempe olahannya. Mungkin dalam membuat resep ia memasukkan rumus2 matematikanya.
Entah jadi apa keluarga kita jika orang ini tidak ada. Denggan bangga ia memaksa orang2 memanggilnya malaikat. Semua orang mengakui keberadaannya, keaktifannya, dan semangatnya. Ia bahkan tak pernah berhasil untuk sekedar berhenti bicara.
Kita semua masih berada di panggung dunia, kita bisa memainkan alur cerita baru.
Seseorang berkata, “Jika surga itu ada di dunia, di sinilah tempatnya”(Hoax). Menurutku itu terlalu berlebihan, tetapi ada benarnya juga untuk kehidupan pribadiku. Jika bukan karena KKN aku tidak akan merasakan damainya jadi anak kost ( hampir 7 tahun hidupku serasa di penjara dan bangun untuk sholat Shubuh dengan siraman air dari Kiyai/ pengurus Ma’had ). Selama satu bulan KKN aku cuti kerja,  tanpa berpikir apa yang bisa saya telan besok ( ortu memberiku uang saku ). Serasa menyeruput segelas teh hangat di pagi buta, begitu hangat di tenggoroan dan di dada. Rileks. Begitulah rasanya keluar dari siklus rutinitas. Juga seperti keberuntungan seekor tikus malang yang berhasil keluar dari rantai makanan karena seluruh kucing di ekosistem itu mati digigit kutu.
Warkop Biliyard adalah tempat pertama kali kaki saya mendarat di Pandantoyo. Saya sempat berfikir membuat petilasan telapak kaki saya di sana. Kepala saya dipusingkan oleh teman2 KKN yang buta arah (  tidak tau Utara Selatan). Saya dengan sabar mengikuti arahan yang akhirnya menyesatkan dan membuatku men thawafi Bali Desa. Segelas kopi dan sebatang rokok men Tune Up kesabaranku. Dan satu lagi, kopinya murah dan nikmat, rasanya malas kembali ke Surabaya. Perjuangan dan lika- liku perjalanan biasa terjadi jika seseorang pergi ke tanah harapan. Apalagi jika yang kutuju adalah “surga” tempat keluarga baru menunggu kedatanganku. Aku mensugesti diri sendiri, kutanamkan di kepalaku kalimat mantera ( rumahku, surgaku) meski hanya kutempati selama sebulan. “Sales dari mana mas?” sapa seorang pelanggan warkop lainnya. “ Dari Surabaya Cak” jawabku ringan. Tidak ada yang aneh dari pertanyaannya karena saya diboncengi sekotak kardus bergambar Magicom di jok sepedahmotorku. Saya terlibat percakapan dan akhirnya tau rute rumah lokasi KKN, kediaman Pak Ong (Bpk. Lasmijan).
16 orang. Em…, sebuah keluarga yang besar. Bayangkan bila keluarga 56 digabungkan dengan keluarga Pak Lasmijan  yang berjumlah 8 orang. Oh, betapa baiknya mereka, mau berbagi rumah dengan kita. Jadilah sebuah keluarga terbesar yang pernah kutemui, yang tinggal di dua bangunan rumah yang berdiri bersebelahan. Rumah yang tak pernah tidur, selalu dijauhi kesan sunyi. Selama sebulan keluarga 56 dengan tidak sopan mencorat- coret kehidupan mereka dengan pensil warna masing- masing. “Sungguh besar lubang yang kita tinggalkan di desa Pandaantoyo”. Begitu pikirku saat 14 dari 16 orang keluarga 56 lenyap menyisakan kami ( Aku dan Nadlir ). Sekejab pemandangan jadi begitu lenggang dan sepi, saat itu kami berdua sadar bahwa semua telah berakhir. Dan keesokan harinya kami berdua harus pergi juga. Merelakan surga yang kita sewa sebulan.
Pak Lasmijan punya suara khas dan logat Bojonegornya begitu lengket, memberi kesan bersahaja dan apa adanya tanpa dibuat- buat. Mamake ( maaf, sampai sekarang saya blom tau namanya), benar- benar menjiwai sebagai orang asli Jawa ( njowo ). Aku selalu berdebat soal Ummi dan Imma, siapa yang lebih tua. Salah tafsir bisa membawa konsekwensi pada hukum siapa yang adik dan siapa yang kakak. Dafa yang menggemaskan, Ferdi seorang pemain kecil sepak bola. Isti yang kalem, tanpa bertanya ba bi bu orang2 sempat mengeroyokiku, saat mereka sadar saya tidak berdaya mereka menyandera, memaksaku duduk bersanding dengannya dengan tangan dan kaki terikat. Aku tahu mereka sedang bercanda. Dulu aku tau namanya, tapi aku gagal mengingat saat menulis ini. Ayah Dafa.
Pemimpin perempuan? Secara teori bagiku itu bukan masalah yang perlu diperdebatkan lagi. Meskipun secara empiris, sejarah mencatat beberapa kelemahan pemimpin perempuan. Keberanian dan ketegaran Ilmy berada di atasku. Ia menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mungkin karena aku hanya berenang-renang di permukaan dan tak punya kesempatan untuk menyelam dan menyentuh dasar. Aku tak begitu mengenalnya, kami jarang berkomunikasi. Dia adalah tipe kelemahanku, pikiranku selalu kosong untuk orang2 seperti ini. Butuh frekwensi lebih dalam melihatnya. Melihat di balik gaya berpakaiannya yang elegan. Tapi satu hal yang telah kupastikan, dia benar- benar seorang perempuan ( Bodoh, kl itu semua orang juga tahu).
Jika kau ingin melihat uniknya hidup, tenggoklah Rozi. Kau akan menahan tawa seumur hidup jika berada di dekatnya. Selera penampilannya yang tidak umum. Wajahnya selalu difoto oleh tangan kirinya sendiri. “Saya itu tidak tampan, tapi manis”, meski masih kontroversi ia terus- terusan mendesak orang lain untuk menerima pendapat tidak pentingnnya ini. Dia orang yang kelewat ramah. Begitu eksotis. Sebagian orang mengatakan ia aneh bin ajaib.
Karena anda begitu berharga”. Tidak ada orang yang reseptif terhadap jargon iklan tersebut melebihi Ayu. Jika ada lomba siapa yang paling lama di kamar mandi, maka saya berani taruhan Ayu sudah menang sebelum bertanding. Aku kagum dengan kepastiannya. Ia satu2nya orang yang peduli saat jatah makanku hilang. Sedangkan lainnya cuma pandai mengira-ngira, “saya kira sudah makan” ( jangan dikira- kira donk, ditanya biar pasti).
 Orang ini baik dan penurut. Matanya terlihat merah, dan selalu mengingatkanku pada Sasuke (seorang figure kartun anime Naruto). “Waktunya adzan Ndir”. Jangan alihkan pandangan kalian, sepertinya ia akan mengeluarkan jargon yang terkenal dan mendunia, cah hem.. cah hem cah.
Pertama kali melihatnya, aku tahu dia sudah sangat dewasa. Aku iri padanya, dia lulus duluan. Dita, maaf aku sering berlaku tidak sopan padamu, tapi percayalah aku hanya terlalu memaksa diri untuk kelihatan dewasa. So’ dewasa, itulah aku.
Dia orang yang periang. Aku belum tahu etimologi “Peno” sebelum bergaul dengannya. Kami suka lepas dan kluyuran kemana-mana. Banyak kenangan yang tak mampu kulupa telah kami ciptakan. “Terimaksih telah mengajakku singgah di istanamu”. Jika aku berhasil berhenti merokok, tetaplah ajak aku ngopi.
Anis seorang mahasiswa psikologi. Tentu dia mudah bergaul dengan siapa saja. Perjuanganya dalam emansipasi dari perokok jahat perlu diapresiasi. Di luar kemampunku untuk menginterpretasikan apa maksud di balik tingkahnnya yang manja dan kekanak- kanakan.. Psikolog punya pengetahuan untuk memanipulasi kepribadian. Mereka tahu bagaimana memahat kepribadian dengan benar.
Seorang teman KKN yang pernah berkunjung ke rumahku baru Mukhlis seorang, kutunggu yang lainnya. ”Terimakasih, jika tidak bertemu denganmu mungkin menunggu satu dasawarsa lagi aku baru bisa menyentuh dan mengoperasikan dua buah apel dengan tanganku”. Aku sudah teracuni zaman, dadaku sesak setiap kali melihat iklannya di majalah. Aku sendiri kurang tahu apa yang membuat kami berdua tampak compatible. Mungkin kami sama- sama menyukai kedamaian dan ketenangan. Selama KKN dia selalu bersamaku. Teman2 memandanginnya sebagai aristokratis, tapi yang kupandangi adalah sikap slow dan santainya. I like it.
Dengan ura’an aku selalu memanggil Ina dengan “Sri” di awal- awal aku mengenalnya. Oh, betapa jahatnya aku. Padahal ia orang baik yang suka menolong, membantuku mencuci piring. Tapi perlu kau tahu, aku selalu so’ akrab dengan orang2 yang baru kukenal. Kucari di google dan kubaca beberapa buku, kusimpulkan ternyata aku menderita penyakit gila no. 45. Pura2 so’ kenal.
Sita juga psikolog. Aku sebagai “psikolog gadungan” selalu minder jika dihadapkan dengan kepribadian psikolog. Soft, sweet, slow the wind blows jika di dekatnya. Baik dan tidak pernah ofensif. Aku Cuma  punya pendapat bahwa Sita orang yang kalem dan reaksioner. Aku tahu dia sangat mencintai dan dicintai keluarganya. Orangtuanya begitu hati2 dalam memahatnya.
 Rifqi punya bakat memasak. Penyetan tempe yang dibuatnya cukuplah menjadi bukti. Sepertinya tangan orang Lamongan benar2 bertuah, aku tertarik untuk menyelidikinya diam2. Semoga saja tidak ada mata orang Lamongan di sini. Hehehe.
Seorang Sanguinis memang selalu terlihat mencolok. Jika tertawa suaranya mengalahkan suara tertawa semua orang dalam ruangan. Dan jika menangis, ia adalah  orang yang paling sulit diredakan. Teori ini dibuktikan kebenarannya lewat Rika. Berada di dekat Rika cukup menghibur. Dia punya selera humor yang tinggi. Rupanya dia punya selera kelewat tinggi jika sedang berpose di depan kamera, dan ia merasa bahwa dirinya harus hadir di setiap jepretan kamera. Terilhami dari guru jiwaku, bahwa orang seperti ini menderita kelainan nomer 19, “Hantu kamera Narsis”.
Setiap kali melihat Lia aku teringat lirik lagu Rian d’Massive, “ senatural mungkin aku lebih suka”. Perhatianku selalu terpusat pada gerak bibirnya saat bicara. Entah hanya perasaanku saja atau anda juga merasakannya, bahwa dia susah bicara. Bisa jadi ini bawaan lahir atau bisa juga ini style Lia di balik kenaturalannya. Seperti cara jalannya yang dulunya kukira style yang berlebihan, eh ternyata dia punya encok. Tak menutup kemungkinan bibirnya habis keseleo ( Ups, maaf).
“Malaikat tempe”. Kalimat ini cukuplah untuk mewakili pendeskripsianku tentang Eny. Sebenarnya ini cerita yang teramat rahasia. Tapi baiklah, karena anda selalu ingin tahu dan sebelum anda memohon ( aku tidak tega an ), akan kuceritakan kisahku.
Bagi anda pecinta tempe, ini mungkin merupakan informasi yang mengagetkan. Bagaikan gledek di siang bolong yang cerah tanpa didahului mendung dan tanpa aba- aba dari kilat. Mengkonsumsi tempe setiap hari bisa menyebabkan penyakit Hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hal ini berdasarkan hasil penelitian terbaru. Bahkan untuk mendukung kebenarannya, artikel yang kukutip menganjurkan anda untuk mencoba membuktikannya sendiri di rumah. Buatlah  menu makanan tempe tiga  kali sehari cukup selama 7 hari, dan tunggu reaksi suami anda. Jangan kaget jika tiba- tiba suami anda mengebrak meja dan berkata “ Ini lagi, Ini lagi” !. Tuh kan?, suami anda tekanan darahnya jadi tinggi (hehehe). Agar tidak ada yang tersinggung berhubungan dengan tempe dalam hati saja aku berkata,“ Bagiku dia (Dita ) kelebihan hemat dalam mengatur keuangan keluarga kita. Jika aku yang pegang uangnya kita akan menyembelih beberapa ekor ayam dan mengundang tetangga tiap harinya”. Ingat !, aku mengatakan kalimat ini dalam hati dan kalian harusnya tidak tahu.
Maaf lupa, kembali ke ceritaku tentang “Malaikat Tempe”. Eny adalah orang yang matematis. Sebelum memasak ia mungkin telah membuat perhitungan dengan menggunakan rumus jitu. Dia pasti mengukur bumbu- bumbu secara cermat dan teliti dengan cara menambah, mengurangi, mengkali, membagi, atau mengakarkuadratkannya. Bahkan mungkin ia mengukur dulu diameter bawang merah dengan  busur. Menghitung jumlah tiap butir garam yang akan ditaburkan. Atau menggunakan jangka untuk membuat lingkaran sebelum menuangkan minyak ke atas wajan. Dan hasilnya terciptalah sebuah makanan yang sedap, sedap, sedap ( baca dg logat Ipin Upin). Mengunyah tempe serasa mengunyah daging ayam. Awalnya saya nyaris yakin bahwa yang saya makan bukanlah tempe, jika saja saya tidak melihat senyum mencurigakan dari seseorang. Oh, malaikat tempe, rumus apa yang kau gunakan? Phytagores kah, Trigonometri kah, atau……?. Ah, aku sadar bahwa aku dan Bapakku tak pandai berhitung. Kau mampu menyulap tempe menjadi daging. Kekuatan sains terkadang benar-benar menakjubkan.
Alangkah bahagianya jika saya sudah berhasil menemukan jawabannya. “Apa bakat saya yang menonjol?”. Aku bahkan takut bernyanyi, suaraku tak semerdu Fida. Jika mendengar Fida membaca ayat suci al Qur’an, saya melihat huruf2 hijaiyah berterbangan dan masuk ke dadaku lewat mulutku yang mengangga terkagum. S.y.a.h.d.u.  
Membicarakan orang sepertiku rasanya membosankan bagi kebanyakan orang. Aku hanya seorang Phlegmatis yang damai. Tetap cenderung loner dan soliter meski aku sudah berusaha untuk berubah. Aku suka hidup di tengah- tengah kalian, itu cukup menghibur, tapi aku juga merasa bahagia saat sendiri. Tidak ada yang luar biasa di depan mataku, semua terllihat biasa. Kemampuan untuk menutupi emosi seperti muncul begitu saja. Hidup tanpa gairah tentunya membosankan. Dalam semua peristiwa, orang sepertiku hanya jadi penonton dan pendengar. Kami adalah orang yang bisa bahagia puas tanpa tepuk tangan dan acungan jempol. Setelah apa yang kulakukan terhadap kalian, tentunya kalian bebas dan berhak menilaiku sesuai selera. Sekarang anda bisa melepas kacamataku dan melihat dengan kacamata anda sendiri. Oi, saya bilang lepas! dan cepat berikan padaku. Dan dengarkan nasehat dari Emakku, “Cobalah memahami orang lain dan menyadari bahwa hanya karena orang lain berbeda dari kita tidak berarti bahwa mereka salah.”
Maaf,! aku hanya pandai berteori, tapi kenyataannya aku selalu terlambat bangun untuk bergerak. Aku butuh motivator2 di sekelilingku. Butuh uluran tangan disertai tarikan. Jika aku masih tidak bergerak, berdirilah di belakangku dan tendang bokongku.

Aku belum menjumpai orang yang menciptakan mesin waktu yang  mampu mengembalikannku ke masa lalu. Tapi aku menemukan cara lain untuk itu. Aku menulis perjalanan hidupku. Dan setiap aku ingin pergi ke masa lalu, aku tinggal membuka bukuku, dengan sepenuh hati kubaca, berimajinasi hingga aku masuk ke dalamnya. ( Bang Salim, Seorang Autobiographer Dengan Aliran Baru).

Hampir setiap petang saat teman2 sekamar terlalap, saya membutuhkan beberapa menit untuk menyendiri. Kadang hanya meditasi kecil (sekedar duduk bersila sambil menutup mata dan menahan nafas selama yang kubisa, membiarkan intuisi bekerja). Atau membaca  komik, buku, menoton film terbaru ( baru download) ala bioskop 14 inc. Menulis perjalanan hidup dan menumpahkan emosi di buku Diary. Saya suka menciptakan alter ego, bertanya pada Diary tentang apa saja. “ Apa yang harusnya kulakukan?”, Oh, kemana saja aku selama ini?, bodohnya aku”. Dan saya selalu puas dengan jawaban Diary yang blak- blakan, idealis tanpa menendang realistis. Dia selalu bersedia mendengarkan ceritaku, tidak ada yang mengerti saya melebihi dia. Bukankah orang yang paling mengerti kita tidak lain dan tidak bukan adalah kita sendiri ?
Ada beberapa alasan mengapa saya memposting catatan asal- asalan ini.

  1. 1.   Ini menyangkut emosi banyak orang. Saya berfikir tidak ada salahnya terbuka.
  2. 2.   Sebagai pertolongan pertama pada insiden “mendadak kangen”. Hehehe.
  3. 3.   Cerita ini terlalu panjang dan tidak muat jika kutulis di buku Diaryku yang mungil. Atau mungkin aku terlalu hemat kemudian jadi pelit. Padahal aku sudah sengaja melipat beberapa lembar kosong dan melompatinya, kupersiapkan khusus untuk cerita KKN. Akhirnya kuketik di Aplikasi My Diary Exe.
  4. 4.   Dan terakhir. Saya juga ingin terlihat normal. “Saya pura2 takut dilupakan”. Konon, orang2 pendiam dan pasif lebih beresiko dilenyapkan dari ingatan.



[1]  Mahasiswa semester akhir jurusan Sejarah.

1 comment:

Bang Salim Tuban said...

Pandantoyo Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro